September 21, 2021

FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN

Better Choice For Better Teacher

Sinergi IAIN Salatiga Dengan Masyarakat, Menuju UIN Salatiga

4 min read

Pengajian Ramadhan kerjasama FTIK dengan LP2M IAIN Salatiga sebagai wujud Sinergi IAIN Salatiga dengan Masyarakat, Menuju UIN Salatiga dilaksanakan pada hari Kamis 06 Mei 2021

Laporan Penyelenggara,oleh Dekan FTIK, Prof. Dr. Mansur, M.Ag

Prof. Mansur mengawali laporannya dengan penyampaian ucapan terimakasih kepada seluruh pimpinan dan pengelola IAIN Salatiga, Kyai, tokoh agama dan tokoh masyarakat, ketua RT/RW dan Kapolsek yang hadir pada kegiatan pengajian tersebut. Selanjutnya, Prof. Mansur menyampaikan tujuan FTIK mengundang para kyai, tokoh agama, tokoh masyarakat dan Kapolsek di lingkungan Pulutan agar ikatan persaudaraan yang melekat dengan IAIN Salatiga. Pada akhir laporannya, Prof. Mansur menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh yang hadir apabila terdapat kekurangan dalam penyambutan. Prof. Mansur mengakhiri laporannya dengan penyampaian pantun.

Sambutan Rektor IAIN Salatiga, Prof. Dr. Zakiyuddin Baidhawy, M.Ag

Prof. Zaki mengawali sambutannya dengan mengucap syukur, sholawat serta salam, semoga nikmat Allah semakin bertambah. Selanjutnya, Prof. Zaki menyampaikan penghormatan kepada para Kyai, Kapolsek, Tokoh masyarakat, pimpinan dan pengelola IAIN Salatiga yang hadir.Prof. Zaki mengucapkan terima kasih kepada FTIK yang telah menyelenggarakan pengajian ramadhan tersebut. Sebagai inti sambutannya, Prof. Zaki selaku Rektor IAIN Salatiga memohon dukungan kepada para tokoh agama dan tokoh masyarakat untuk bersiap menjadikan Pulutan sebagai “metropulitan”. Hal ini didasarkan pada jumlah mahasiswa IAIN Salatiga yang akan mencapai 18 ribu, pasti akan mempengaruhi perekonomian masyarakat Pulutan.

Rektor juga meminta dukungan untuk mensukseskan cita-cita Salatiga sebagai kota pendidikan. Di akhir sambutannya, Rektor menyampaikan bahwa saat ini IAIN Salatiga sedang proses alih bentuk menjadi UIN. Diperkirakan pada pertengahan tahun 2022 sudah dapat dilaksanakan launching alih bentuk IAIN menjadi UIN Salatiga yang akan dihadiri oleh Menteri Agama Republik Indonesia dan mengundang tokoh masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan sinergisitas dan dukungan untuk menjadi besar bersama para tokoh agama dan masyarakat di lingkungan Pulutan.

Inti Tausiyah, oleh KH. Habiburrahman El Shirazy, Lc., M.A

KH. Habiburrahman menyampaikan tausiyahnya dengan analogi sebuah cerita. Al kisah ada seorang muhsinin yang ingin menginfaqkan benda yang paling dicintainya kepada seorang Kyai untuk pembangunan pesantren. Tetapi ternyata benda yang paling dicintai oleh seorang Muhsinin tersebut hanyalah sebuah aquarium dengan ikan kecil di dalamnya. Setelah Muhsinin tersebut perlu, Kyai pesantren tersebut kemudian memerintahkan kepada muridnya untuk menjual ikan tersebut. Sang murid membawa ikan tersebut kepada penjual ikan yang ada di pasar, dan ikan tersebut ditawar untuk dibeli dengan harga 2,5ribu rupiah.

Murid tersebut kemudian pulang kembali menemui sang Kyai untuk meminta petunjuk. Sang Kyai meminta murid untuk membawa ikan tersebut kepada dua pembeli yang lebih besar, ditawar untuk dibeli dengan harga 25 ribu dan 250 ribu. Tetapi sang Kyai belum menjual ikan tersebut, justru meminta sang murid menemui Muhsinin yang menginfaqkan ikan tersebut. Muhsinin menyarankan agar ikan tersebut dijual kepada temannya yang sangat kaya dan mengerti tentang ikan itu. Akhirnya, sang murid membawa ikan tersebut sesuai perkataan Muhsinin. Sampai di sana, ikan tersebut ingin dibeli dengan harga 200 juta.

Tetapi sang murid belum melepaskannya karena teringat pesan Kyai “berapapun ikan tersebut ditawar, jangan diberikan, kecuali harganya sudah dikalikan dengan 10”. Akhirnya, sang murid menyampaikan kepada pembeli bahwa ikan tersebut akan dijual dengan harga 200jtx10=2M, dan murid tersebut memberikan ikan kepada pembeli dan pulang kembali menemui Kyai untuk menyerahkan check pembayarannya.

Pesan yang dapat diambil dari cerita tersebut adalah segala sesuatu akan berharga tinggi di tempat yang tepat dan orang yang tepat, yaitu orang yang benar-benar mengerti tentang ikan itu. Analogi cerita tersebut jika dikaitkan dengan fadhilah sholat, jika disampaikan kepada orang yang tidak mengerti akan biasa saja, tidak bernilai apapun. Tetapi jika disampaikan kepada orang yang mengetahui akan jauh lebih bermakna sehingga dicari-cari. Demikian halnya dengan fadhilah ramadhan yang begitu istimewa, tidak akan ada artinya jika disampaikan kepada orang yang tidak tau.

Bagi orang yang mengetahui tentang keistimewaan ramadhan, ia akan berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan fadhilahnya. Bahkan di awal-awal ramadhan saja, ia sudah merasa takut apabila tidak bertemu dengan ramadhan lagi. Pada 10 hari terakhir, akan berlomba-lomba untuk mendapatkan lailatul qodar. Rasulullah seperti tidak mengenal dunia ketika berada di sepuluh hari terakhir di bulan ramadhan, full untuk i’tikaf di masjid. Karena Rasulullah tau persis seperti apa lailatul qadar sehingga berusaha menghidupkan malam-malamnya dan serius untuk mendapatkannya. Menurut Habib Abdullah Al Hadad, jika malam jum’at pada sepuluh hari terakhir ramadhan jatuh pada malam ganjil maka kemungkinan besar itu adalah malam lailatul qadar.

Analogi yang sama dengan cerita ikan tersebut adalah tentang Rasulullah yang sangat tau persis, melihat langsung kondisi surga dan neraka, sangat tidak rela jika umatnya masuk ke dalam neraka. Tetapi justru umatnya santai-santai saja lantaran tidak tau persis seperti apa pedihnya siksa di neraka. Hal ini menjadikan pelajaran bagi kita yang sangat beruntung sebagai umat Nabi Muhammad SAW, hendaknya senantiasa i’tiba atas segala yang dilakukan oleh Rasulullah.

Fakultas Tarbiyah | Newsphere by AF themes.